Pages

Jumat, 04 Juni 2010

Anjat dari Kampung Eheng, Kutai Barat memperoleh “Inacraft Award 2010”


Borneo Chic
Our Heritage, Your Lifestle


Tak ada yang menyangka, dan patut di acungi jempol bahwa kerajinan anyaman rotan sederhana dari DAS Kedangpahu di Kutai Barat bisa meraih “Inacraft Award 2010” yaitu “juara dua dari kategori serat alami” dengan menyisihkan ratusan peserta pameran lainnya pada pameran inacraft 21 – 25 April yang lalu. Pameran inacraft adalah pameran kerajinan terbesar di Indonesia. Bahkan panitia dan juri inacraft kemudian mengajukan produk ini untuk masuk dalam penjurian UNESCO, Seal of excellence award for handicraft.

Tas-tas rotan hasil kerajinan masyarakat Dayak Benuaq dari Kutai Barat Kalimantan Timur yang biasa dikenal dengan nama”Anjat” memang cantik, terdiri dari motif yang bermakna dengan dua kesan warna yang mistis hingga warna tunggal, anyaman yang rumit, kuat dan rapi, sebuah bukti tentang kepiawaian mereka dalam menganyam. bahan baku rotan yang mereka gunakan, adalah rotan yang berasal dari hutan tropis, yang berada pada catchment area yang berperan sangat penting bagi kelestarian habitat satwa dan flora di sepanjang Sungai Mahakam, di Kalimantan Timur.

Melihat keunggulan tersebut maka sebuah Jaringan lembaga swadaya masyarakat dan kelompok masyarakat kota yang mendukung pengrajin dan penganyam Dayak di di 11 kampung di Kalimantan yang bernama Craft Kalimantan Network” kemudian meluncurkan sebuah merek baru berupa tas kontemporer dengan kombinasi kulit dengan asesoris lainnya yang bernama Borneo Chic. Jaringan ini muncul sebagai upaya untuk menjawab tantangan penyelamatan bagi hutan-hutan yang kritis, penyelamatan budaya dan juga kehidupan orang Dayak.  Expansi besar-besaran dari perkebunan skala besar, pertambangan dan pembalakan hutan telah mengancam keberadaan dari tradisi menganyam, yang sangat bergantung pada hutan alami yang sehat. Merek Borneo Chic sendiri membawa kita untuk lebih memahami geliat sebuah pulau yang dikenal karena hutan hujan dan Masyarakat Adatnya. Tas “Anjat” modern adalah salah satu dari beberapa warisan masyarakat adat yang menginspirasi tas-tas dari koleksi Borneo Chic. Tiga alasan utama hingga memunculkan gagasan untuk meluncurkan Borneo Chic  ini, yaitu mempromosikan identitas dan kebanggaan atas budaya masyarakat adat, pengelolaan hutan lestari, dan peningkatan pendapatan untuk masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan.

Kerajinan anyaman tradisional jika di garap dengan serius, tidak hanya akan mendatangkan keuntungan finansial bagi masyarakat adat,tetapi juga memberikan kebanggaan akan budaya dan keinginan untuk terus melestarikannya. Sebelumnya warga kampung Pepas Eheng hanya menganyam “anjat” untuk dijual kepada turis domestik maupun turis musiman yang datang berkunjung ke kampung mereka, pemasarannya pun masih terbatas dan penghasilan yang didapat juga musiman, dengan kerjasama dalam “Craft Kalimantan Network”, diharapkan dapat memperluas pasar dan meningkatkan nilai jual dari produk mereka. Jika pasar telah diciptakan, dikelola, dan berjalan dengan sempurna, maka ini akan menjadi sebuah janji bagi kelestarian budaya kerajinan yang ada di masyarakat.

Ketika di luncurkan untuk pertamakalinya dalam pameran Inacraft pada 21 – 25 April yang lalu, stand/booth milik Borneo Chic ini dibanjiri oleh pengunjung yang tertarik untuk memiliki koleksi-koleksi tas anyaman yang terbuat dari bahan alami namun gaya ini. Pengunjung dan pembeli tidak hanya dari dalam negeri melainkan juga dari luar negeri, pesanan mengalir dari philipina, jepang, singapore bahkan india. Tak sedikit pembeli yang rela menunggu pesanan tasnya selama 52 hari karena produk telah habis terjual dalam pameran tersebut.

Salah seorang pengrajin dari Kampung Eheng yang ikut serta dalam pameran tersebut seakan tidak percaya jika produk “Anjat” yang diproduksinya selama ini mendapat perhatian dan menjadi minat para pengunjung. “Tak pernah terbayangkan sebelumnya kalau anjat kami, yang berasal kampung kecil Dayak ini, bisa menjadi tas yang penuh gaya!”Komentarnya. Hal ini menjadi motivasi baginya untuk semakin mengembangkan anyaman dari rotan ini dan juga mengelola organisasi kerajinan mereka yaitu “Bina Usaha Rotan” yang telah berdiri semenjak tahun 2008 yang lalu. “Dalam organisasi Bina Usaha Rotan ini, kami bekerja dan berinisiatif bersama, berbagi pengalaman bersama dan yang paling penting untuk meningkatkan kesejahteraan bersama”. (dari berbagai sumber; MSB_Non Timber Forest Product Exchange Programe)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar